Home » » 04. PHK (LUPUS “CINTA OLIMPIADE”)

04. PHK (LUPUS “CINTA OLIMPIADE”)

Ditulis Oleh Unknown on Selasa, 23 Juli 2013 | 10.18



Pasalnya ya karena si Lupus. Makhluk itu selama ini memang dikenal sebagai 'teman tetap' Poppi. Kadang jajan di kantin sama-sama, ngerjain temen sekelas sama-sama, bikin pe-er sama-sama atau juga ngejar layangan putus yang kadang nyasar ke lapangan kalau lagi pelajaran olahraga.

Pokoknya kompak deh! Apalagi kalau lagi musim ulangan. Tapi belakangan ini Lupus jarang masuk. Jarang maen ke rumah Poppi. Meski memang tidak pernah rutin malam Minggu apel, tapi nggak biasanya sampai tiga kali berturut-turut seperti kali ini. Poppi memang maklum sama sifat Lupus yang angin-anginan. Yang nggak bisa dipegang buntut-buntutnya. Sebagai cewek, dia udah begitu cukup pengertian. Tapi Lupusnya ini, kok ya nggak sadar-sadar. Selalu bikin keki.

Seperti waktu Ruri, cewek yang doyan nggosip itu, sibuk nggosip tentang dirinya sendiri (Kok ada ya orang yang begitu?). Ke sana ke sini memamerkan foto close-up yang katanya cowoknya yang baru, "Newcomer. Baru semalem resmi jadi pacar saya yang ketujuh," katanya bangga.

Dadanya sampai membusung (eh, nggak jorok, lho!). Lupus yang datang ke kelas belakangan, tak luput kena pameran foto tunggal tersebut.
"Kece nggak, Pus?" Ruri berkata penuh semangat.
"Siapa sih? Penyanyi dangdut, ya?" tanya Lupus serius.
Ruri jelas keki berat.
SUATU kali dalam hidupmu, pernahkah kamu merasa begitu sepi? Membuka jendela kamar kala semuanya terlelap dalam mimpi, dan merasa sendirian di tengah alam semesta yang begitu luas?
Pernahkah?
Pernahkah kamu merasa begitu benci kepada tawa anak-anak kecil yang bermain di halaman sebelah rumahmu? Sehingga lagu terindah bagimu hanyalah gesekan angin pada pucuk-pucuk cemara dan rontoknya daun-daun kering di musim kemarau?

Nah, ketauan. Kalau begitu kamu pasti lagi frustasi. Ngaku aja. Samaan kok sama Poppi. Poppi ini belakangan memang sering uring-uringan kayak gitu. Kerjanya seharian, kalo enggak dengerin kaset-kaset model Patah Hatinya Rachmat Kartolo (enggak usah berlagak mikir, kamu pasti apal lagunya. Eh, kita nggak nuduh lho, cuma nebak aja!), ya nyoret-nyoretin buku harian. Atau bengong berat kayak seniman keabisan inspirasi. Nggak napsu makan, nggak napsu bobok, dan yang paling gawat, jadi segen mandi.

Tapi sebetulnya nggak bakalan segawat ini kalo nggak ada gosip yang mengatakan bahwa Lupus punya cewek lagi. Nggak jelas pacaran sama siapa, tapi desas-desus itu memang lagi ngetop. Ada yang bilang sama artis penyanyi kondang Evita Fanny, ada yang bilang sama anak kelas satu yang baru.

Poppi tadinya nggak begitu mudah percaya, tapi bukti-bukti memang ada. Dua hari yang lalu, anak itu memang masuk. Dengan santainya menaruh tas di bangku, lalu kelayapan keluar kelas lagi. Sama sekali tak menyapa Poppi yang duduk dengan manis di bangkunya. Sibuk ngeceng ke kelas-kelas baru.

Poppi jelas panas. Buntut-buntutnya ya seperti tadi itu. Samaan sama kamu. Suka ngelamun sendirian. Kenapa ya, cowok itu cenderung nggak setia? Apa karena di dunia ini memang lebih banyak cewek, sehingga cowok leluasa pacaran dengan lebih dari satu cewek? Biar adil, kebagian semua, begitu? Ih, amit-amit. Itu pendapat gila. Nggak berperikewanitaan. Lebih baik cewek-cewek nggak usah pacaran sama sekali. Lagi pula, apa sih hebatnya Lupus itu? Kalau mau saya bisa aja mendapat sejuta 'lupus' lain yang lebih dan dirinya, batin Poppi.

Memang benar. Poppi toh cantik. Dengan rambutnya yang lebat itu, banyak cowok yang enggak tahan untuk tidak melirik beberapa detik kepadanya. Terus kenapa Poppi jadi begitu frustasi hanya karena Lupus?
Itulah cinta.

-Poppi sudah terlanjur menyukai semua yang ada pada diri Lupus. Orang yang lebih baik atau lebih cakep dari Lupus itu banyak. Jalan-jalan di pasar swalayan, kamu bisa menemukan makhluk kayak begitu sepuluh biji. Tapi ibarat barang tiruan, yang sama ya luarnya aja. Isinya tetap nggak ada yang se-qualified Lupus (taela!). Maksudnya sifatnya, tingkah lakunya, lengkap sama gaya-gayanya yang rada norak. Juga sikapnya yang penuh perhatian, walau kadang bikin keki. Gimana nggak penuh perhatian? Dia bisa begitu sopan di depan orang tua Poppi. Bukan sopan yang dibuat-buat, tapi nampak wajar. Di samping juga sering membawakan mereka oleh-oleh. Jarang-jarang lho, ada cowok yang begitu memperhatikan calon mertuanya kayak gitu. Pun ketika lebaran kemarin, dia dengan serius ngomong sama Poppi, "Pop, sayang sekali untuk lebaran kali ini, rejeki saya nggak begitu banyak. Tapi biar deh, demi kamu saya ngalah aja. Saya rela, lebaran kali ini biar calon mertua kamu aja yang saya kasih hadiah...."
Poppi yang tadinya udah siap-siap untuk terharu, jadi keki banget.
Di samping itu, Lupus juga ngetop sekali. Fans-nya bukan hanya di lingkungan sekolah dia aja, tapi juga melimpah ke luar sekolah. Buktinya kalau dia turun dari bis sepulang sekolah, histeria massa selalu terjadi. Puluhan abang-abang becak dengan semangat '45 menarik-narik bajunya. Bukan minta tanda tangan, cuma mau menawari (dengan sedikit paksa) Lupus untuk naik becaknya.

Lupus juga termasuk anak yang susah dikerjain. Padahal dia hobi banget ngerjain orang. Sampai pernah suatu ketika anak-anak cowok di kelasnya kompakan untuk sekali-sekali ngerjain Lupus. Mereka semua ngumpul di toilet. Mengatur strategi penjebakan.

"Kita kunci aja di WC. Dia kan hobi banget ke belakang. Beberapa dari kita memantau ke mana dia pergi. Begitu masuk wc, kita kunci dari luar. Biarkan beberapa saat sampai dia mabok dulu. Setuju?"

Agak sadis memang, tapi toh pada setuju. wc di sekolah Lupus memang rada sulit dibuka dari dalam, tapi dengan mudah dikunci dari luar. Tinggal mengaitkan engsel kuncinya, beres!

Namun ketika mereka baru selesai berembuk, sampai bela-belain menahan bau yang ngujubileh itu biar nggak ketauan, tiba-tiba Lupus keluar dari wc sambil cengengesan. "Hayo, mau merencana kan usaha pembunuhan ya?"
Teman-temannya yang mengira aman berembuk di toilet itu, jelas pada keki berat. Usaha mereka jadi gatot. Gagal total.
Itu hanya sebagian keunikan Lupus. Belum lagi kisah gombal Lupus waktu nonton film sama Poppi. Dia kelupaan ninggalin Poppi di bioskop sendirian. Langsung pulang aja. Soalnya nggak biasa nonton bareng cewek sih. Di tengah jalan dia baru sadar, ketika merasa ada yang kurang beres.

Tapi sabar itu memang ada batasnya. Saling pengertian itu bisa jalan kalau ada kesadaran dari dua belah pihak. Poppi sudah menjalankan semua itu dengan baik. Tinggal Lupus yang belum. Jadi kenapa harus menyesal putus dengan dia? Poppi malah harus bersyukur, karena dia tau kejelekan-kejelekan Lupus lebih awal. Sebelum segalanya terlambat. Dan cinta itu tidak buta. Justru sebaliknya, kita harus melihat kepribadian pacar kita sampai yang terkecil.

Saya bisa berbuat seperti Lupus! tekad Poppi. Maka, Poppi pun mencampakkan foto Lupus yang lagi nyengir di atas meja belajarnya. Lalu duduk di depan kaca, dan mencoba menyisir rambutnya yang kusut. Di sana, dia seakan menemukan dirinya sendiri. Dirinya yang baru. Dengan semangat baru.
Dan besoknya, dia langsung menolak ketika mau diantar ke sekolah, "Enggak, Pa. Saya mau naik bis aja. Sekali-sekali kan boleh. Pingin seperti teman-teman. "

Bapaknya jelas heran. Soalnya baru sekali ini Poppi nggak mau diantar ke sekolah. Tapi Poppi memang punya alasan yang nggak boleh diketahui orang tuanya. Dia sering denger cerita, orang yang naik kendaraan umum itu lebih enteng jodoh ketimbang yang diantar jemput. Soalnya, kemungkinan ketemu orang yang belum dikenal lebih besar daripada diantar supir sendiri. Apalagi pada jam-jam sekolah, kala bis kota seperti bis sekolah saja. Berisi anak-anak sekolah dari segala jenis.

Poppi belum pernah merasakan itu. Makanya ia begitu ingin. Dia juga tau kalo Lupus itu sering kenalan dengan cewek-cewek lain di bis. Seperti gosip yang menyebar itu, yang mengatakan bahwa Lupus kenal sama cewek baru kelas satu itu di bis. Katanya rumah ceweknya itu dekat dengan rumah Lupus. Suka naik bis bareng-bareng.

Jadi kenapa Poppi nggak coba begitu?
"Tapi sekolah kamu kan jauh, Pop? Harus dua kali naik bis?" bapaknya mencoba membujuk.
"Nggak apa-apa."
"Kalau ada tukang copet atau apa begitu?"
"Nggak takut."
Dan pagi itu, jalanlah Poppi sendirian ke tempat pemberhentian bis. Menunggu metro-mini jurusan Blok M. Tapi Poppi bener-bener nggak nyangka kalau pada jam-jam sekolah begini bis-bis pada penuh semua. Sarat dengan penumpang, yang bukan anak sekolah aja. Tapi kuli-kuli bangunan, orang kantoran atau juga inem-inem yang mau ke pasar. Poppi yang tak mau menanggung rekiso eh, risiko terlambat, langsung saja menyetop metro-mini walau sarat dengan penumpang. Metro itu langsung berhenti. Sejenak Poppi terpana di tempat. Gimana cara masuknya? Kok penuh banget?

"Ayo, Neng, .cepat! Kosong kok di dalam," rayu kondektur itu sambil menarik-narik tangan Poppi. Sementara di bangku belakang, sederetan anak muda bersorak-sorak menggodanya. Dia stil cuwek.

Poppi naik ke tangga. Dari belakang, kondektur yang kurang ajar itu mendorong-dorong dia. Memaksanya untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aduuuh . orang kok udah kayak sarden aja? Dijejel-jejelin. Mana atap metro itu rendah sekali. Terpaksa Poppi berdiri sambil membungkuk. Berbaur dengan keringat-keringat orang lainnya. Dan dia keki banget, karena cowok-cowok yang kebagian duduk, nggak mau berdiri untuk memberikan kursinya kepada Poppi. Malah asyik baca buku teks sekolah. Sial, apa ini yang namanya emansipasi?

Tapi pemuda itu ya nggak bisa disalahkan. Dia toh nggak mungkin bela-belain ngasih duduk buat Poppi, untuk kemudian ikutan berbungkuk-ria bersama para penumpang lainnya. Kan pegel sekali tuh. Mana biasanya metro itu jalannya kayak keong. Pelan banget. Nggak puas-puasnya cari penumpang lain. Poppi jadi nyesel. Ternyata naik bis umum tak seindah yang dia bayangkan.

Gimana bisa cari jodoh dengan keadaan kelipet-lipet begini? Apa karena belum biasa aja? Untung hari masih pagi. Saat orang baru pada mandi, dan belum berkeringat. Coba kalo nanti siang. Idih! POPPI jadi nyesel tadi pesan kalo siang nanti nggak usah dijemput.

***

Tapi usaha untuk membalas sakit hatinya tidak kandas sampai di situ. Tak seperti biasanya, Poppi menerima ajakan Fadly yang memang sering menggodanya. Nonton bersama, ke diskotik bersama, ke restoran mewah bersama. Kencan dengan Fadly memang lebih enak. Dia lebih banyak tau tentang tempat-tempat yang biasa dikunjungi remaja. Yang sebelumnya nggak pernah dikunjungi Poppi. Tetapi tetap, Poppi merasa ada yang kurang. Saban malam, dia masih sering merasa sendiri lagi. Kebahagiaan itu memang hadir saat dia berjalan-jalan dengan Fadly. Tetapi setelah itu, dia seperti dikembalikan kepada dunianya yang sepi. Merasa sendiri lagi di waktu malam. Aneh, biasanya nggak begini kok.

Dia bener-bener nggak bisa membohongi dirinya sendiri, kalau kadang-kadang saat malam telah larut dia rindu pingin ketemu Lupus. Pingin ngobrol-ngobrol dengannya. Pingin jalan-jalan lagi menelusuri pusat pertokoan. Jalan sama Lupus banyak seninya.

Maka malam itu Poppi sudah nggak tahan lagi. Dia buat surat yang panjang sekali buat Lupus. Menanyakan kebenaran gosipnya dengan anak-anak baru di kelas satu. O ya, Lupus sekarang sudah naik ke kelas dua.

***

Di suatu pagi yang dini, Lupus terlihat menghampiri Poppi yang sendirian di kantin sepi. Anak-anak banyak yang belum datang. Memang sudah diatur begitu kok, supaya suasananya lebih mesra.

"Hai, Pop, saya udah terima surat kamu. Hebat. Ternyata kamu berbakat jadi pengarang novelet," sapa Lupus begitu dekat. Poppi membuang muka.
Tapi, oh God, dia rindu suara jelek Lupus itu.
"Dan sekarang terbongkar bukan skandal-skandal mu dengan para bintang-bintang baru itu? Iya?" sahut Poppi ketus.
"Hei, you have no right to say like that to me!" Lupus jadi serius.
"0, yes I do!" Poppi nggak mau kalah, "Ngaku aja. Beritanya sudah menyebar kok. Kamu pacaran sama artis Evita itu, sama anak kelas satu atau sama anaknya ibu kantin yang di Bandung. Iya, kan? Apa sih yang kurang dari saya selama ini? Saya sudah cukup pengertian, cukup sabar, cukup... apa lagi ya?"
"Cukup kasih sayang...."
"Ya, betul. Cukup kasih sayang. Terus apa lagi yang kamu tuntut, he?"
"Enggak ada. Saya nggak nuntut apa-apa kok. Cuma kamu lupa, pacaran itu juga harus pake rasio dong. Pake pikiran yang matang. Kedewasaan."
"Lho, apa kamu anggap saya ini nggak punya rasio?"
"Punya, tapi ketutup emosi kamu. Coba aja kamu pikir, mana sempat saya pacaran dengan gadis sebanyak itu. Sama kamu aja, saya udah sering kerepotan. Saya kan meski masih sampingan, udah kerja juga. Coba-coba belajar cari duit. Hampir seluruh waktu luang saya tersita untuk kerjaan saya di majalah. Wawancara, nulis berita, les Inggris, melukis, belum lagi kalau di kampung ada kondangan. Kan rugi sekali kalau enggak datang.
"Jadi mana sempat? Dan semua itu saya lakukan demi kamu., Demi masa depan saya...."
Poppi jadi diam. Tapi toh belum puas, "Lalu, ngapain kamu setiap masuk sekolah sering ngeceng ke kelas-kelas satu heh? Pokoknya saya minta PHK!"
"Apa itu PHK?"
"Putus Hubungan Kekasih."
"Aduh, Poppi, kamu kok sempit amat pikirannya? Saya ke kelas satu itu juga dalam rangka tugas. Kali ini saya mau nulis abis-abisan tentang posma sekolah. Yang meski dilarang, tapi masih juga ada. Dan sebetulnya tujuannya kan baik. Buat menjalin keakraban, asal tidak disalahgunakan. Itulah, makanya saya bolak-balik ke kelas satu. Minta pendapat dari masing-masing mereka. Kamu ngerti kan sekarang?"
Poppi diam.
"Sebetulnya saya sedih banget nggak ketemu-ketemu kamu. Apalagi saya tau kamu belakangan ini sering pergi sama Fadly. Iya, kan?" Lupus berkata sedih.
Kali ini Poppi benar-benar terharu. "Kamu cemburu ya, Pus?"
"Iya. "
-"Lupus..., sebetulnya saya nggak mau begitu. Saya cuma cari kompensasi aja. Abis kamu juga sih gara-garanya. Tapi sekarang saya percaya kok sama kamu...," suara Poppi makin pelan. Dan mereka saling membisu.
Suasana haru itu terganggu ketika seorang gadis masuk ke kantin. Celingak-celinguk ke dalam. Dan matanya bersinar ketika melihat Lupus.
"Eh, Kakak namanya Lupus ya?" sahut gadis itu kemudian.
Lupus mengangguk heran.
"Aduh, dari tadi dicariin. Ini lho, ada titipan surat dari Wida. Tau, kan? Yang anak kelas satu itu. Katanya balesan surat Kakak yang kemarin...."
Poppi langsung melotot ke arah Lupus.
"Eh, sabar, Pop. Sabar. Namanya juga orang usaha. .. kan boleh. Sabar dong kamunya. Siapa tau isinya ditolak...."
Tapi Poppi langsung pergi meninggalkan Lupus. Tinggal Lupus yang kerepotan seharian merayu Poppi.. ..

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
English French German Spain Russian Japanese Arabic Chinese Simplified

Arsip Blog

 
Support : Kampoeng JAVA
Copyright © 2013. Kampoeng JAVA - All Rights Reserved
Template Created by Mas Template Edit by Kampoeng JAVA
Proudly powered by Blogger