Home » » 05. Ngritik Ni Ye… (LUPUS “CINTA OLIMPIADE”)

05. Ngritik Ni Ye… (LUPUS “CINTA OLIMPIADE”)

Ditulis Oleh Unknown on Selasa, 23 Juli 2013 | 10.22



PPS, Posma, Plonco, Mapram, Mapras atau apa kek namanya, persetan! 

Gini ya, sebetulnya saya masih nggak ngerti apa yang bisa ditarik dan didapat dari program kuno norak tersebut. Coba apa? Apa hikmah pelajaran yang didapat dari itu semua? Terus terang, saya antipati dengan yang begituan itu. Hanya orang-orang yang bodo aja yang mau terjebak ikut gituan' Beneran. Saya heran, kok ya selama ini ada orang yang mau ngikut program gituan. Apa sih SMA Merah Putih' itu? Kayak lembaga yang gimanaaa gitu. Mau masuk aja harus ikut PPS, Posma, Mapram, Mapras, Plonco, dsb, dst, dll....

Padahal pas udah jadi pelajar beneran juga belum temu serius belajar. Nggak terus jadi hebat, kuat mental, tahan cobaan, dsb! Kebanyakan malesnya. Sekolah cuma buat formalitas, iseng-iseng daripada nganggur. Numpang bercanda, nggosip, nampang, cari perhatian, nyombong... wah, macem-macem deh. Iya, kan? Hayo, ngaku aja.

Makanya, buat apa ikutan program tersebut?

Apalah artinya jika setelah itu kita masih bersikap childish. Kekanak-kanakan. Apa tujuan program itu diadakan! Jawaban dari mereka-mereka adalah (sudah pasti) klise, "Begini, soalnya agar para siswa nantinya cinta pada sekolah , mentalnya kuat. Ini kan sebagai tes mental. Sebagai cobaan. Supaya begini agar nanti begitu...."
Gombal!
Ketahuilah bahwa tes mental yang sebenarnya ada pada kehidupan yang sedang kita jalani. Bagaimana kita menghadapi segala cobaan yang menerpa diri kita. Itu baru namanya tes mental! Bukan seperti Posma, Mapras, Plonco..., yang begini sih apaan. Norak! Yang ada di kegiatan tersebut cuma sandiwara belaka. Kepura-puraan yang nggak lucu. Permainan orang-orang frustrasi, gila hormat, gila perhatian, kompensasi negatif..., pokoknya nggak sehat sama sekali.

Apa sih yang mau ditunjukin oleh mereka-mereka sebagai panitia program tersebut? Memerintah ini dan itu, marah-marah, membentak-bentak orang tanpa alasan yang jelas (pura-pura galak ni ye...). Emangnya main drama? Atau mungkin mereka adalah para seniman gagal? Bisa jadi.

Tapi, apa nggak ada cara yang lebih manusiawi? Terutama kalau di universitas-universitas. Ih! Kan ada penataran P4 sebagai gantinya itu semua. Jangan dikira orang-orang yang digojlok .itu nggak sakit hati, lho! Mereka kan juga manusia, bukan robot.

Ada juga yang bilang sebagai perkenalan antara para senior dengan murid baru. Kayaknya kalau cuma sebagai perkenalan nggak perlu pake guling-gulingan di tanah, push-up, muka dicoreng-coreng kayak Hiawata (kalo nggak tau Hiawata, Humpa-pa juga boleh!)

Demi Tuhan, dari kecil saya nggak punya cita-cita untuk diperlakukan seperti itu. Udah gitu seharian lagi. Kadang sampai malam (katanya!).

Coba bayangkan, bagaimana kalau sampai ada yang pingsan lalu koit. Mungkin saya terlalu berlebihan dan emosional dalam melihat masalah ini, tapi bukan tak mungkin hal itu terjadi. Soalnya daya tahan orang kan nggak sama. Terutama yang cewek-cewek. Coba bayangkan, bagaimana perasaan orang tua mereka jika anak yang diharapkan untuk jadi 'orang', meninggal hanya gara-gara ikut Posma. Saya bukan mengada-ada nih. Emang bener ada. Adda aja! Adalah bohong alias nonsense bahwa Posma itu untuk menambah keakraban antara para senior dengan siswa baru (sok akrab ah!). Kalau mau akrab, kenapa nggak kenalan aja secara baik-baik dalam suasana damai dan bersahabat. Kan lebih simpatik dan beradab, ya nggak? Percaya deh, program 'pembantaian' itu sungguh nggak sehat. Cuma menimbulkan rasa tak senang, rasa dendam, rasa permusuhan dan rasa-rasa antipati. Pokoknya yang bersifat negatif.

Bayangkan, udah uang sekolah masuk SMA ini mahal, ikut Posma (bayar uang formulir juga), disiksa.... Wah! Tapi kok pada nurut aja? Aneh tapi nyata. Berontak dong! Kita kan di negara ini punya hak untuk bersuara. Bebas. Merdeka. Hak untuk tidak diperlakukan semena-mena. Sesuai dengan UUD '45 pasal 28 dan pasal 27 ayat 2 (Cie... hapal ni ye...). .
Jika saja saya nantinya mengalami hal-hal seperti tersebut di atas dan untuk itu saya diberi sertifikat Posma/PPS, saya akan bakar kertas sialan itu.

Fortunately, I didn't have such a disgusting, miserable and useless thing. Because I didn't and I'll never participate in an uncivilized program for the rest of my life. Honest! (Yang masih susah menangkap arti kata-kata ini, atau emang nggak ngerti sama sekali, bunuh diri aja mendingan.:..)

Sembilan dari sepuluh dokter yang saya minta pendapatnya mengatakan bahwa Posma tidak baik dan sangat tidak sehat bagi perkembangan mental. Memperlemah daya hidup. Dengan kata lain, hanya orang-orang idiot sajalah yang mau mengikuti, dan hanya orang-orang yang berpenyakit jiwa sajalah yang terlibat sebagai panitia.

Bener. It's okay? Mudah-mudahan selebaran ini bisa jadi input buat kita. Agar mata hati kita jadi terbuka. Abu Nidal.

***

Itulah selebaran yang beredar tadi pagi. Ditempel di tembok-tembok, di papan pengumuman atau di kantin. Dan tentu saja para panitia Mapras seperti ditempeli tai kodok wajahnya. Marah, malu, kesal. Tapi siapa yang mengedarkan selebaran gelap itu? Yang meminjam nama teroris jebolan PLO itu? Gila, penulis gelap itu benar-benar mau cari setori.

Bisa ditebak, Andang-lah yang paling kebingungan dengan beredarnya selebaran gelap tersebut. Soalnya, dia yang paling ambisius mengadakan program Mapras itu.

Kemarin-kemarin, dia memang nampak (sok) sibuk sekali ngurusin pembentukan panitia. Walau bukan ketua OSIS, tapi semangatnya melebihi semangat kaum pejuang angkatan '45. Waktu ada rapat panitia, bicaranya berapi-api. Kayak uler naga.

Makanya, kini dia bingung sekali. Dengan cepat, dia mengumpulkan para anak buahnya dalam rapat gelap seusai sekolah.
"Bagaimana ini? Semua bisa berantakan. Bagaimana mungkin kita bisa kecolongan kayak gini. Kalian tau semua, pamflet itu sudah tersebar ke mana-mana. Semua anak baru pasti sudah membaca. Dan bagaimana kalau mereka terpengaruh dan mengadakan aksi protes? Huh, sial. Pasti ada oknum yang nggak suka sama rencana kita bikin Mapras. Memang sih, kegiatan kayak begini nggak boleh lagi. Tapi yang namanya tradisi nggak boleh hilang dong!" Andang nyerocos.
Teman-temannya cuma manggut-manggut aja.
Lupus juga. Lagi nggak interes sama kicauan Andang. Dia ngamuk berat. Ini kan jamnya orang tidur siang. Mending kalau rapatnya ada konsumsi. Huh!

Tapi kamu nggak tau masalahnya, ya? Gini. Si Andang, dengan rekomendasi dari ketua OSIS- terpilih jadi ketua program Mapras. Kegiatan ini sendiri secara tertulis sebetulnya tidak boleh. Pun di universitas-universitas. Diganti dengan yang lebih mendidik, seperti P4, kebersihan kelas, dan sebagainya! Tapi, seperti biasa, apa yang tertulis tidak selalu cocok dengan kenyataannya. Apalagi SMA Merah Putih ini bukan sekolah negeri. Jadi peraturan bisa sedikit lain dengan negeri. Dan Mapras itu sudah mentradisi di setiap tahun ajaran baru. Nggak berat sih, nggak kayak di universitas swasta. Tapi ya yang namanya Mapras, tetap saja nyebelin. Jadi nggak adil dong kalau tahun ini program gelap itu ditiadakan. Makanya anak-anak kelas dua dan tiga ngotot mau mengadakan Mapras. Sedangkan guru-guru cuma angkat bahu saja, memaklumi acara yang sudah mentradisi ini.

Tapi kalau anak-anak kelas satunya berontak, berarti mengancam kelangsungan jalannya kegiatan tersebut. Beneran. Soalnya secara resmi, anak-anak senior tak punya izin dari kepala sekolah.
Makanya mereka sekarang kebingungan. .
"Ayo dong, gimana jalan keluarnya. Apa kita harus mencari siapa yang membuat dan menyebarkan pamflet tersebut? Ayo dong. Ada pendapat nggak? Lupus, kamu kok dari tadi diem melulu. Gimana nih wartawan kita...."

Lupus cuma menggaruk-garuk rambutnya dengan males. Dia di samping ngantuk memang lagi sedih banget. Gara-gara di- PHK sama ceweknya, Poppi. Jadi sama sekali nggak lagi mood untuk ngasih ide. Andang pun melemparkan pertanyaan kepada anak lainnya. Di situ ada Irvan, Boim playboy duren tiga, Andy, Roni, bahkan Ruri biang gosip yang cerewet. Tumben, kali ini Ruri nggak banyak omong. Mungkin lagi sakit gigi. Tapi kompensasinya jadi kentut melulu. Sudah tiga anak jadi korban, dan pindah tempat duduk. Nggak mau dekat-dekat dia lagi.

Rapat pun semakin ramai ketika ketua OSIS muncul. Anak-anak lain juga mulai berdatangan. Membahas kemungkinan siapa yang membuat pamflet itu. Membahas jalan keluar yang ditempuh. Ketika mereka saling berdebat, Lupus jadi suntuk. Secara diam-diam dia menyelinap keluar.
Dia memang kurang suka acara begituan. Mending jajan, terus pulang.

***

Sampai keesokan harinya, mereka para senior belum menemukan jalan keluar yang baik. Juga siapa penulis selebaran gelap itu. Meski sudah dipastikan ada dua kemungkinan, anak baru atau justru seorang senior yang nggak setuju diadakannya acara tersebut.
Cuma Lupus yang kelihatan tak peduli.

Ketika bel istirahat, dia duduk sendirian di belakang kantin. Menikmati bihun goreng yang dibungkus daun. Secara iseng membaca selebaran yang konon membuat heboh itu. Sebagian memang sudah dirobek, tapi secara misterius bisa muncul kembali.

Lupus membaca dengan saksama. Hm, boleh juga, gumamnya. Tapi tiba-tiba dia menemukan sesuatu. Sesuatu yang mungkin bisa mengungkap kan rahasia si penulis gelap tersebut. Ini pasti bikinan anak baru. Yang nggak setuju diadakan Mapras. Karena di beberapa bagian, dia menyebutkan bahwa dia belum pernah mengikuti Mapras. Dan meski tampak berusaha menghilangkan identitas, emosinya menunjukkan emosi seorang cewek. Ditambah beberapa kalimat berbahasa Inggris yang kelihatan nge-prof. Aha, dengan data-data ini masak nggak bisa menemukan siapa penulisnya?

***

Lupus sama sekali tak mengira kalau yang namanya Rina itu orangnya kecil, lembut dan ehm, manis. Anak itu begitu pucat dan ketakutan ketika sadar bahwa rahasianya telah terbongkar.

"Nggak sulit, tadinya cuma menebak aja. Saya melihat ada tiga petunjuk. Pamflet itu menunjukkan kelincahan, emosi, dan kemampuan berbahasa Inggris si penulis. Tak banyak yang memiliki tiga kelebihan seperti itu. Maka saya pergi ke kantor administrasi sekolah. Melihat semua data anak kelas satu. Kamu mungkin ingat, ketika baru masuk sekolah setiap siswa diharuskan menyerahkan biografi singkat beserta prestasi yang pernah diraih, untuk memudahkan penyaluran pelajaran ekstrakurikuler. Iya, kan? Dan di situ saya membaca namamu. Rina. Prestasi: juara mengarang berbahasa Inggris yang diadakan oleh UNICEF. Nah, klop sudah. Hanya kamu yang memenuhi tiga petunjuk itu. Ditambah lagi alamat rumahmu dekat dengan sekolah. Itu memudahkan kamu untuk menempel pamflet di malam hari. Dan sekaligus memudahkan saya mencari rumahmu.

"Ngomong-ngomong, jago juga Inggris-mu. Belajar di mana? Pernah ke luar negeri, ya?" tanya Lupus panjang lebar.
Rina tak menjawab. Dia masih tampak ketakutan.
"Tap... tapi, Kak, saya tidak... eh, maksud saya, saya cuma melampiaskan rasa kesal saya. Saya benci sekali acara mapras-maprasan seperti itu."
"Kenapa?"
Dia tak segera menjawab. Seperti menimbang-nimbang dulu. Lupus tetap menunggu.
"Karena Kakak saya. Dia cedera waktu ikut Mapras di universitasnya. Ketika itu dia disuruh membawa balon gas yang banyak ke atas gedung untuk dilepaskan. Tiba-tiba ada seorang panitia yang merokok. Apinya mengenai balon tersebut. Seketika meledak. Wajah kakak saya terbakar. Terpaksa dirawat di rumah sakit. Siapa yang menanggung risiko kalau begini?"
Lupus tercekat. Dia melihat mata Rina berair.

Dia sendiri sebetulnya kurang suka pada acara tersebut. Apalagi kalau mendengar cerita-cerita orang lain yang tampak sadis. Pantas saja Rina begitu menentang mapras di SMA Merah Putih.

"Tapi kamu lupa, Rin, itu kan di universitas. Dan kini juga mulai dilarang kalau sampai keterlaluan. Itu juga bukan disengaja. Nah, untuk SMA kita, nggak terlalu berat kok. Paling membersihkan halaman, kelas, dan yeah, dibentak-bentak sedikit. Kamu tau, Rin, masa-masa perkenalan sekolah itu adalah masa yang paling berkesan buat kita, sebagai remaja. Saat kita merasa senasib, nggak beda kaya atau miskin. Sama-sama dicabut haknya. Pokoknya berkesan deh, meski kalau disuruh mengulangi... wah. Amit-amit. Ogah. Saya juga tadinya benci sekali. Tapi pas malam terakhir, di mana kita semua bikin acara ke luar kota, wah- rasanya terharu sekali. Rugi deh, kalau nggak pernah ngerasain."

Dan beberapa hari kemudian, Mapras itu sendiri tetap dilaksanakan. Kep-sek berbaik hati menurunkan izin resminya, sehingga anak-anak kelas satu mau nggak mau harus ikut. Tentu saja Lupus tetap merahasiakan identitas Rina, sehingga ketika Mapras itu berlangsung, para panitia sudah melupakan selebaran tersebut.

Lupus kini sedang sibuk mencari-cari Rina di antara para siswa baru yang dikuncir lima rambutnya. Maksudnya, siswa cewek, gitu. Semua siswa baru itu sedang mendapat tugas meminta tanda tangan para senior sebanyak-banyaknya. Tentu saja para senior jadi serasa bintang film ngetop, dikejar-kejar untuk dimintai tanda tangan.

Hm, Rina bener juga. Anak-anak senior memang lagi pada norak. Apalagi Boim. Dengan kampungannya dia menyuruh setiap siswa baru merayunya untuk mendapatkan satu tanda tangan.
"Lupuuuus..." panggilan nyaring di kejauhan mengagetkannya. Lupus menoleh, eh... itu dia si Rina. Berlari-lari kecil ke arahnya sambil tertawa senang.
"Trims ya, kamu nggak ngadu soal selebaran itu. Bayangin aja kalau para senior tau. Wah, saya bakalan dikerjain. O ya, minta tanda tangannya dong, Kak Lupus."
Lupus tersenyum sambil memberikan sepuluh tanda tangan di buku Rina.
Dan ketika Mapras berakhir, semua siswa baru berkumpul membentuk lingkaran api unggun. Udara malam dingin menggigit. Tapi kehangatan menyelimuti masing-masing siswa. Irvan, tampak lengket dengan salah satu siswa baru. Boim juga begitu. Apalagi Andang. Wih, mesra. Maka nggak salah kalau Lupus pun berdiri berdekatan dengan Rina.
Semua menyanyikan lagu Auld Lang Syne.

Tapi sebetulnya lagu itu lebih pantas Lupus nyanyikan untuk Poppi, bukan untuk Rina. Dan kayaknya sekarang sudah jelas, apa arti Mapras bagi mereka semua. Ya, apa lagi sih kalo bukan cari jodoh. He he he....

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
English French German Spain Russian Japanese Arabic Chinese Simplified

Arsip Blog

 
Support : Kampoeng JAVA
Copyright © 2013. Kampoeng JAVA - All Rights Reserved
Template Created by Mas Template Edit by Kampoeng JAVA
Proudly powered by Blogger